Ekspor Rotan Setengah Jadi: Awal Kehancuran Industri Rotan Lokal

kerajinan rotanPerkembangan rotan Indonesia tidak kunjung mengarah perbaikan. Data ekspor rotan Indonesia dari tahun ke tahun mengalami penyusutan. Sekilas balik sejarah awal kemunduran industri rotan dimulai dari negara Jerman. Kerajinan rotan asal Indonesia masuk ke benua Eropa diperkenalkan oleh negara-negara eropa seperti Perancis, Inggris dan Belanda. Para buyers di negara-negara tersebut mengimpor kerajinan rotan dari negara di kawasan Asia Tenggara. Indonesia salah satu pemasok ekspor kerajinan rotan terbesar. Prosentase hampir mencapai 80 persen dari total perdagangan internasional. Para buyers memanfaatkan industri rotan lokal. Para buyers memesan kerajinan rotan dari industri rotan lokal yang belum bermerek.

Industri rotan lokal menyambut baik penawaran dari para buyers. Dalam definisi perdagangan industri, istilah produk yang belum bermerek disebut produk stengah jadi. Karena pesanan dari para buyers begitu banyak, bermunculan industri rotan di daerah-daerah. Mereka saling bekerja sama memproduksi kerajinan rotan setengah jadi. Daerah industri rotan tersebut antara lain Cirebon, Bekasi dan Tangerang.

Jerman merupakan negara yang Pendapatan Domestik Bruto (PDB) ditopang oleh barang ekspor. Jerman terkenal dengan kemajuan teknologi di bidang industri yang tinggi dan canggih. Kerajinan rotan bermerek yang dibuat oleh negara tetangga di benua Eropa menyerbu pasar dalam negeri Jerman. Jerman membuat proteksi industri rotan di dalam negeri dengan sistem buka tutup. Tujuannya, industri rotan di dalam negeri tidak hancur. Jerman berhasil membuat rotan sintetis. Rotan sintetis ini dapat mensubstitusi kerajinan rotan bermerek asal negara-negara Eropa. Jerman berhasil menjual rotan sintetis. Konsumen di dalam negeri maupun luar negeri menerima dengan baik produk rotan sintetis ini. Ekspor rotan sintetis asal Jerman berkembang terus-menerus.

Titik awal kehancuran kerajinan rotan bermerek asal negara Eropa dimulai dari sini. Para buyers menghentikan pembelian kerajinan rotan setengah jadi. Di samping lesunya perdagangan internasional kerajinan rotan, Indonesia mengalami tekanan internasional dari pemerhati lingkungan. Pemerhati lingkungan menyerang Indonesia tentang deforestation. Pemerintah Indonesia mengeluarkan peraturan tentang produk hutan dan hasil hutan. Pelarangan produk hutan dan hasil hutan dalam bentuk mentah atau setengah jadi diberlakukan oleh pemerintah.

Ekspor rotan Indonesia mengalami penurunan terus-menerus. Kerajinan rotan yang berasal dari industri lokal satu persatu bertumbangan. Kerajinan rotan setengah jadi menumpuk di gudang. Pekebun rotan di Kalimantan, Sulawesi hanya menumpuk rotan mentah di tempat penampungan. Tidak ada pengepul yang mau mengambil rotan mentah dari pekebun. Biaya operasional terlalu mahal dibandingkan dengan penerimaan. Kerajinan rotan dari industri rotan lokal tidak bisa berproduksi karena bahan baku rotan mentah terbatas dan harga rotan mentah mahal.

Pemulihan kejayaan ekspor rotan Indonesia seperti dulu tidak mudah dilakukan oleh pemerintah. Pasar kerajinan rotan Indonesia mengalami kerusakan yang parah. Jika Indonesia mampu mengembalikan hutan seperti semula, mungkin konsumen luar negeri mau merespon kerajinan rotan Indonesia dengan baik. Pemerintah Indonesia harus meyakinkan pada dunia bahwa produk rotan Indonesia ramah lingkungan. Harapannya, konsumen luar negeri mau membeli kerajinan rotan Indonesia dengan harga yang kompetitif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>