Produk lokal Vs Produk China

produk chinaSejak Indonesia dengan China memberlakukan kerja sama perdagangan dalam naungan ASEAN-China Free Trade Agreement, ekspor impor kedua negara mengalami peningkatan yang signifikan dibandingkan sebelum ada kerja sama perdagangan. Ekspor Indonesia di tahun 2010 ke Tiongkok mencapai angka Rp 10 Trilyun. Impor barang asal Tiongkok ke Indonesia mencapai angka Rp 14 Trilyun. Ini berarti ekspor impor Indonesia di tahun 2010 mengalami defisit perdagangan. Pertumbuhan ekspor Indonesia ke China sebesar 34 persen. Sedangkan pertumbuhan impor barang asal China ke dalam negeri sebesar 52 persen. Perbedaan angka pertumbuhan perdagangan luar negeri yang besar seperti ini membuat khawatir situasi pasar dalam negeri.

Kematangan perekonomian negeri tirai bambu terasa lebih baik dibanding perekonomian Indonesia. Produk lokal mengalami head to head dengan produk China. Indonesia hanya menang dalam barang ekspor berupa bahan baku mentah. Baik volume dan nilai barang tersebut tidak dapat ditandingi oleh negeri asal panda itu. Sayang ekspor Indonesia knock out dalam perdagangan produk jadi. Produk lokal berupa produk jadi kurang bersaing dengan produk China. Dari segi harga, produk lokal sulit untuk menurunkan harga patokan untuk konsumen. Harga patokan yang rendah menipiskan margin yang sudah terdesak. Akibatnya, konsumen di dalam dan luar negeri beranggapan harga produk lokal terlalu mahal.

Dalam hal pendistribusian barang, produk China melewati prosedur yang mudah dan cepat. Infrastruktur di negara tirai bambu sangat mendukung perkembangan industri hulu dan hilir. Infrastruktur untuk pengangkutan barang dari negara asal hingga ke negara tujuan ekspor mendapat jaminan yang cukup. Sehingga, ketika produk China tiba di pelabuhan atau bandara di Indonesia dapat memperoleh biaya ekonomi yang rendah. Praktis, produk China di pasar Indonesia menjadi murah.

Pelaku industri dalam negeri harus berjibaku dengan ketersediaan sarana dan prasarana dalam menjalankan roda perusahaan. Infrastruktur seperti akses jalan masih menyisakan pekerjaan yang belum selesai. Kebutuhan sumber daya energi untuk menggerakan mesin produksi sering tidak cukup atau tersendat-sendat. Konflik perusahaan dengan tenaga kerja sering berujung pada terhentinya produksi. Hal itu semua mengakibatkan biaya ekonomi sangat tinggi. Ujung dari itu semua harga produk lokal yang dipatok oleh produsen akan menjadi mahal.

Pemerintah memang memiliki kewenangan seperti self defence hingga safeguard. Tetapi bentuk penyelesaian tersebut sifatnya reaktif dan sementara. Pelaku usaha menginginkan penyelesaian yang antisipatif dan partisipatif. Sifat penyelesaian tersebut dapat berjangka waktu yang lama. Misalnya, pemberdayaan usaha kecil dan menengah benar-benar dijalankan oleh pemerintah secara serius. Selama ini usaha kecil dan menengah mengeluhkan intermediasi bank yang tidak responsif. Padahal produk lokal dari usaha kecil menengah memiliki daya saing yang tinggi untuk melawan produk China. Usaha kecil dan menengah dapat menciptakan pilar-pilar ekonomi yang tangguh. China mampu meningkatkan neraca ekspor impor dengan nilai positif karena mampu memberdayakan usaha kecil dan menengah. Indonesia seharusnya dapat membuat nilai ekspor impor berada pada nilai surplus dengan China.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>